Amazon Contextual Product Ads

Kamis, 28 Oktober 2010

CARA MEMBUAT INCUBATOR


mugkin alat yang satu ini terlihat sangat mudah dalam pembuatannya,namun anda jangan terlalu mngagap mdah dalam pembuatan suatu incubator.Karena,jika suhu pada incubator tadak ssuai dgan besar incubator yg anda buat maka hasilnya akan sangat mngecewakan.
Anda juga harus lebih berhati2 pada tekhnik pembuatan incubator karena jika anda smpai slah mka suhu yg ada di dlam incubator akan kluar karena klenggangan pada pembuatan kotak incubator.

berikut adalah tips pembuatan incubator...

   ☼selamat membaca☼



Disain
Langkah awal seperti biasa adalah studi literatur, mengumpulkan beberapa contoh disain inkubator, prinsip penetasan dan ‘menengok’ alat yang dijual di sebuah toko unggas (poultry shop) di kota Bandung. 


Di Internet banyak contohnya, mulai dari yang sangat sederhana hanya berupa kotak kardus sampai yang cukup canggih berkapasitas ratusan telur dan dilengkapi dengan pembalik telur otomatis. Ada artikel yang cukup komprehensif soal tetas menetas ini dari Glory Farm (hallo Glory Farm, artikel anda kami link disini ya, terima kasih atas tulisan yang bagus).

Sederhananya, sebuah alat inkubator telur akan terdiri dari:
  1. Kotak inkubator
  2. Pemanas (heater)
  3. Kontrol temperatur (thermocontrol atau thermostat)
  4. Penunjuk suhu (thermometer) dan penunjuk kelembaban
  5. Rak untuk menyimpan telur
Alat penetas dual power (minyak tanah dan listrik) yang tersedia di toko lokal di Bandung berkapasitas 100 butir seharga Rp. 850.000 menggunakanthermocontrol sederhana. Berbentuk dua lempeng sensor panas (wafel) yang akan mengembang dan menekan saklar untuk memutus arus listrik. Mereka juga menjual sensor tersebut secara terpisah seharga Rp. 72.000. Kekurangan sensor wafel ini adalah tuning yang relatif lebih rumit, serta jangkauan suhu yang tidak bisa terlalu tinggi.
Untuk itu, kami tidak membutuhkan penetas dengan kapasitas besar. Kapasitastelur pun sudah cukup. Sayangnya di pasaran lokal nampaknya tidak tersedia alat dengan kapasitas kecil. Sehingga kami memutuskan untuk mencoba membuatnya sendiri.
Parameter untuk telur peafowl yang kami dapatkan dari literatur internet beberapa hobiis di luar negeri adalah:
  • Suhu inkubasi 99°F - 100°F atau sekitar 37.2°C - 37.8°C (dry bulb).
  • Kelembaban pengeraman 60% atau 86°F - 87°F temperatur (wet bulb)
  • Inkubasi 26 hari plus penetasan 2 - 3 hari.
  • Pembalikan telur minimal 2x sehari.
Alat dan Bahan
  1. Thermocontrol
    Setelah menimbang-nimbang, kami memilih thermocontrol yang sedikit lebih canggih. Harganya memang lebih mahal, namun tentu terlihat lebih keren :) . Memiliki sensor termokopel terpisah dan dial potensiometeruntuk tuning suhu yang diinginkan. Rentang suhu 2°C, dengan kemampuan sampai 110°C. Belakangan agak nyesel juga, buat apa suhu setinggi ini hehe. Di pasaran tersedia juga tipe yang memiliki kemampuan dial hanya 50°C. Rasanya yang ini lebih cocok karena tuning suhu akan lebih mudah. Tapi apa boleh buat, yang 110° sudah dibeli.
    Dengan thermocontrol model ini kami dapat dengan mudah memindahkan dan men-set suhunya bila ingin digunakan pada peralatan lain, misalnya inkubator yogurt :) . 
    Selain itu di pasaran ada juga model digital dengan beragam fitur dengan harga yang lebih mahal.

    Dial Knob Thermocontrol
    From 
    Alat Penetas Telur Sederhana
  2. Elemen pemanas
    Elemen pemanas digunakan untuk menaikkan suhu di dalam ruangan temperatur sampai suhu yang dikehendaki.
    Ada beberapa alternatif murah yang bisa dibuat. Yang mudah adalah dengan menggunakan bohlam lampu. Perambatan panas dari pijar bola lampu akan menghangatkan ruangan. Kekurangannya adalah daya rambat panas yang cenderung lambat. Selain itu untuk kotak seperti yang kami buat, kami kesulitan menemukan bola lampu yang pas dayanya. Yang kami coba, 25 watt terlalu rendah (sekitar 34°C), 60 watt terlalu tinggi (± 41°C).
    Untuk itu kami menggunakan elemen pemanas yang biasa digunakan pada kompor listrik. Elemen dengan daya maksimal 300 watt berbentuk spiral kecil yang bisa ditarik dan dirangkai ini murah meriah dan mampu merambatkan panas dengan cepat.
    Elemen Pemanas


  3. Perkabelan, dudukan lampu, bohlam dan saklar
    Lampu didalam inkubator rencananya kami gunakan selain sebagai penerang, juga untuk lebih mempertahankan suhu. Lampu ini terhubung dengan saklar tersendiri sehingga bisa dihidup matikan terpisah dengan elemen pemanas. Selain itu juga berfungsi sebagai backup manakala elemen pemanas putus. Berbagai peralatan kelistrikan ini untungnya tersedia di gudang sebagai sisa-sisa eksperimen yang lalu.
  4. Kotak Inkubator
    Kotak berukuran tinggi 50cm, lebar 24cm dan panjang 30cm dari bahan MDF ini merupakan kotak ex mainan anak yang kami temukan di gudang. Kami hanya menambahkan pintu dari bahan multiplex dan engselnya.
  5. Alat kontrol Suhu dan Kelembaban
    Thermometer sederhana dapat digunakan di dalam inkubator. Toko penyedia peralatan medis biasanya memiliki. Ada yang model air raksa/ mercury dilapis dengan papan multi (± Rp. 10.000) atau model batang (Rp. 12.500). Yang perlu diketahui thermometer yang biasa ini adalahalat untuk mengukur udara kering (dry bulb). Sedangkan untuk kelembaban kita juga harus memiliki thermometer untuk mengukur udara basah (wet bulb). Sayangnya kami belum menemukan thermometer wet bulb yang cukup ringkas untuk masuk dalam kotak inkubator kami
    Selain menggunakan wet bulb thermometer, pengukuran kelembaban bisa menggunakan hygrometer, namun sayangnya harganya lebih mahal. Penulis menemukan unit hygrometer yang cukup representatif harganya mencapai Rp. 200.000.
    Kelembaban adalah faktor yang sangat penting bagi pertumbuhan embrio ayam, terutama saat menetas karena berhubungan dengan kondisi kering tidaknya kulit telur dan penguapan.
    Yang harus diperhatikan adalah pengukuran dilakukan di berbagai sudut didalam inkubator, hal ini akan dijelaskan lebih lanjut pada bagian "tuning". 
Prinsip-prinsip dasar penetasan nampaknya sama untuk semua jenis telur


Pada artikel berikutnya kami akan ceritakan skema dan cara merangkai alat-alat tersebut.